Slide Show

  • Ketika tampil di Kampus 3 UIN Walisongo
  • Anggota JQH setelah selesainya kegiatan Gebyar Festifal Islami 2014
  • Bersama Kyai Bisri Musthofa pada acara Semarak Miladiyyah UKM JQH tahun 2013
  • Keluarga JQH ketika muncak di Gunung Ungaran
  • Dalam acara UIN Walisongo Mengaji, Semarak Miladiyyah JQH eL-Fasya ke-23 2017
  • Kegiatan pengenalan calon anggota baru sebelum mengikuti OPTIKA
  • Divisi Arab saat belajar bersama di wisata alam Semarang
  • Setelah melakukan latihan rutin Divisi dan setelah menyelesaikan kegiatan di PRPP Semarang
  • Anggota JQH di UINSIQ Wonosobo tahun 2016
  • Bertepatan dengan PHBI Bulan Maulid 2017
  • Bersama Habib Rizal Semarang
  • Tampil di acara FEBI FAIR 2018
  • Tampil Mengisi Penutupan Acara FSI HIQMA UIN Syarif Hidayatulloh Jakarta2018
  • Penampilan Salah Satu Peserta Lomba Rebana dalam Acara GFI JQH
  • Bersama Gus Mus Dari Rembang
  • Di Taman Miniatur Surga Bandungan

Hari kedua OPTIKA, Al-Qur’an Dilagukan Boleh Atau Tidak? Ini Jawaban Ahmad Adib Nawawi

Memasuki hari kedua Pengenalan Tilawah dan Kajian Al-Qur`an (OPTIKA) virtual, calon anggota baru UKM JQH eL-Fasya eL-Febi’s ditemani oleh Ahmad Adib Nawawi selaku Pengasuh Rumah Tilawah Al-Husaini yang juga Ketua Umum JQH periode 2003 dalam kegiatan Seminar Tilawah bertajuk Sampaikan Pesan Cinta Sang Pencipta Melalui Nada dan Irama. Sabtu, (3/10/2020).

Melalui aplikasi tatap muka Zoom Online Meeting, pria berkacamata ini menghimbau agar para qari` agar terus belajar walaupun sudah bisa.

“Jangan berhenti belajar tilawah. Jangan merasa bahwa kita sudah bisa tilawah. Pada akhirnya kesombongan muncul, nah pasti di dalam bertilawah ini tidak ada keberkahan,” pesannya kepada para audien online.

Ia mengatakan bahwa Abdullah bin Mas’ud, salah seorang sahabat Rasul yang memiliki anugrah dari Allah berupa suara yang merdu pun masih ingin memperindah lantunan tilawahnya.

Dimoderatori oleh Mita Arpansa, seminar ini menjadi menarik ketika sang moderator bertanya perihal perbedaan pendapat ulama’ yang melarang untuk melagukan Al-Qur’an dengan alasan panjang pendek atau makharijul huruf-nya tidak sesuai.

“Jadi memang ada sebuah perbedaan di kalangan kita, dan itu wajar ya. Saya memiliki pedoman bahwa guru-guru yang mengajari saya, bahkan Prof. Dr. K. Sirot Aqil Al Munawwar seorang qari` sekaligus mufassir yang luar biasa, beliau memberikan pernyataan bahwa tilawah ketika ada bacaan mad lien, mad aridh lissukun, dan sebagainya itu boleh dibaca lebih dari atu alif. Asalkan sesuai dengan koridornya, jadi tidak terlalu panjang itu biasaya di akhir lagu atau di akhir ayat. Lah tapi kalau ditengah, ya kita harus sesuaikan. Saya pun mengikuti guru-guru saya dan itu boleh,” jawabnya.

Ia pun menegaskan kembali bahwa Rasulullah senang dengan Al-Qur`an yang dibaca menggunakan lagu.

“Saya khusnudzon saja lah dengan beliau-beliau yang tidak memperbolehkan itu. Karena Rasulullah sendiri cinta terhadap Al-Qur`an yang dibaca menggunakan lagu,” tegasnya.

Acara ini semakin menarik ketika dirinya membeberkan trik latihan pernafasan agar tetap panjang dan ada power suara.

“Selain berlatih teori, latihan pernafasan juga perlu dilakukan secara rutin. Caranya bagaimana? Ya seperti yang dilakuakan Ustadz Muamar Z.A itu. Beliau sering naik turun tangga, atau lari-lari kecil di tagga. Ternyata itu bisa membawa perkembangan nafas. Kemudian setiap pagi dan sore beliau menyelamkan kepala di kulah bak mandi. Terus sambil teriak sekers-kerasmya, kalau tidak kuat naik lagi. Jadi itu meningkatkan power suara. Atau dengan kita meniup lilin berulang kali,” bebernya.

(Eva)

Posting Komentar

0 Komentar