Slide Show

  • Ketika tampil di Kampus 3 UIN Walisongo
  • Anggota JQH setelah selesainya kegiatan Gebyar Festifal Islami 2014
  • Bersama Kyai Bisri Musthofa pada acara Semarak Miladiyyah UKM JQH tahun 2013
  • Keluarga JQH ketika muncak di Gunung Ungaran
  • Dalam acara UIN Walisongo Mengaji, Semarak Miladiyyah JQH eL-Fasya ke-23 2017
  • Kegiatan pengenalan calon anggota baru sebelum mengikuti OPTIKA
  • Divisi Arab saat belajar bersama di wisata alam Semarang
  • Setelah melakukan latihan rutin Divisi dan setelah menyelesaikan kegiatan di PRPP Semarang
  • Anggota JQH di UINSIQ Wonosobo tahun 2016
  • Bertepatan dengan PHBI Bulan Maulid 2017
  • Bersama Habib Rizal Semarang
  • Tampil di acara FEBI FAIR 2018
  • Tampil Mengisi Penutupan Acara FSI HIQMA UIN Syarif Hidayatulloh Jakarta2018
  • Penampilan Salah Satu Peserta Lomba Rebana dalam Acara GFI JQH
  • Bersama Gus Mus Dari Rembang
  • Di Taman Miniatur Surga Bandungan

Sepenggal Kisah Kartini Santri Kyai Soleh Darat

Sumber gambar : www.dream.co.id

Oleh : Eva Noor Aliffah*

Namanya Kartini. Raden Ajeng Kartini Djojo Adhiningrat lengkapnya. Siapa yang tak kenal beliau? Sosok dengan kebaya dan sanggul yang tak pernah lekang oleh waktu, salah satu tokoh Pahlawan Nasional yang dikenal gigih memperjuangkan emansipasi wanita Indonesia di kala ia hidup.

        Seperti yang tercatat dalam sejarah Indonesia, R.A Kartini adalah seseorang dari kalangan priyayi atau kelas bangsawan Jawa, putri Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, Bupati Jepara yang lahir pada Senin Pahing, 21 April 1879. Ibunya bernama M.A. Ngasirah, putri dari Nyai Haji Siti Aminah dan Kyai Haji Madirono, seorang guru agama di Telukawur, Jepara.

          Mengenai riwayat pendidikan R.A Kartini, beliau mengenyam pendidikan seadanya. Hingga akhirnya ayahnya mengizinkan Kartini kecil untuk sekolah di ELS (Europese Lagere School). Disinilah Kartini kemudian belajar bahasa Belanda dan bersekolah disana hingga ia berusia 12 tahun, sebab menurut kebiasaan ketika itu, anak perempuan harus tinggal di rumah untuk ‘dipingit’. Namun siapa sangka, di balik pemikiran-pemikirannya yang berwawasan Eropa (negara Barat) Kartini adalah seorang santri. Kartini juga belajar agama, belajar membaca dan menulis Al-Qur`an, serta belajar tasawuf.

          Lantas, kepada siapa Kartini berguru agama? Kepada kakeknya? Kepada Kyai Hasyim Asyari, ulama di tanah Jawa sekaligus pendiri Nahdhotul Ulama’? atau kepada Kyai Ahmad Dahlan pendiri Muhammadiyah?

        Bukan. R.A Kartini belajar ilmu Al-Qur`an kepada Kyai Sholeh Darat yaitu guru dari Kyai Hasyim Asyari dan Kyai Ahmad Dahlan. Kartini menjadi salah satu murid Kyai Sholeh Darat yang terkenal, tetapi bukan dari kalangan ulama. Karena R.A Kartini inilah Kyai Sholeh Darat menjadi pelopor penerjemahan Al-Qur`an ke bahasa Jawa. Menurut catatan cucu Kyai Sholeh Darat (Hj. Fadhilah Sholeh), R.A Kartini pernah punya pengalaman tidak menyenangkan saat mempelajari Islam. Guru ngajinya memarahinya karena dia bertanya tentang arti sebuah ayat Qur`an.

         Kartini pernah menulis surat kepada sahabat Belandanya, Stella Zihandelaar. Ia  mencurahkan keluh kesahnya tentang pengalamannya itu. Di dalam suratnya Kartini menulis :

“Mengenai agamaku, Islam, aku harus menceritakan apa? Islam melarang umatnya mendiskusikan ajaran agamanya dengan umat lain. Lagi pula, aku beragama Islam karena nenek moyangku Islam. Bagaimana aku dapat mencintai agamaku, jika aku tidak mengerti dan tidak boleh memahaminya?”

“Al-Qur`an terlalu suci, tidak boleh diterjemahkan ke dalam bahasa apa pun, agar bisa dipahami setiap Muslim. Di sini tidak ada orang yang mengerti bahasa Arab. Di sini, orang belajar Al-Qur’an tapi tidak memahami apa yang dibaca”

“Aku pikir, adalah gila orang diajar membaca tapi tidak diajar makna yang dibaca. Itu sama halnya engkau menyuruh aku menghafal bahasa Inggris, tapi tidak memberi artinya”

“Aku pikir, tidak jadi orang soleh pun tidak apa-apa asalkan jadi orang baik hati. Bukankah begitu Stella?

R.A Kartini melanjutkan keluh kesahnya, tetapi kali ini dalam surat bertanggal 15 Agustus 1902 yang dikirim ke Ny Abendanon.

“Dan waktu itu aku tidak mau lagi melakukan hal-hal yang tidak tahu apa perlu dan manfaatnya. Aku tidak mau lagi membaca Al-Qur`an, belajar menghafal perumpamaan-perumpamaan dengan bahasa asing yang tidak aku mengerti artinya”

“Jangan-jangan, guruku pun tidak mengerti artinya. Katakanlah kepada aku apa artinya, nanti aku akan mempelajari apa saja. Aku berdosa. Kita ini teralu suci, sehingga kami tidak boleh mengerti apa artinya”

         Menurut Nyai Fadhilah Sholeh, takdirlah yang mempertemukan Kartini dengan Kyai Sholeh Darat. Pertemuan tersebut terjadi dalam acara pengajian di rumah Bupati Demak, Pangeran Ario Hadiningrat, yang juga pamannya.

Kemudian ketika berkunjung ke rumah pamannya tersebut, R.A Kartini menyempatkan diri mengikuti pengajian yang diberikan oleh Kyai Sholeh Darat. Saat itu beliau sedang mengajarkan tafsir Surat Al-Fatihah. Sepertinya R.A Kartini mulai tertarik dengan kajian ini.

Kyai Sholeh Darat memberikan ceramah tentang tafsir Al-Fatihah. Kartini tertegun. Sepanjang pengajian, Kartini seakan tak sempat memalingkan mata dari sosok Kyai Sholeh Darat, dan telinganya menangkap kata demi kata yang disampaikan sang penceramah.

Ini adalah hal yang wajar karena selama ini Kartini hanya tahu membaca Al-Fatihah, tanpa pernah tahu makna ayat-ayat itu.

Setelah pengajian, Kartini mendesak pamannya untuk menemaninya menemui Kyai Sholeh Darat. Sang paman tak bisa mengelak, karena Kartini merengek-rengek seperti anak kecil. Berikut dialog Kartini dengan Kyai Sholeh.

“Kyai, perkenankan saya bertanya bagaimana hukumnya apabila seorang berilmu menyembunyikan ilmunya?” Kartini membuka dialog.

Kyai Sholeh tertegun, tapi tak lama. “Mengapa Raden Ajeng bertanya demikian?” Kyai Sholeh balik bertanya.

“Kyai, selama hidupku baru kali ini aku berkesempatan memahami makna surat Al-Fatihah, surat pertama dan induk Al-Qur`an. Isinya begitu indah, menggetarkan sanubariku,” ujar Kartini.

Kyai Sholeh tertegun kembali. Sang guru seolah tak punya kata untuk menyela. Kartini melanjutkan, “Bukan buatan rasa syukur hati ini kepada Allah. Namun, aku heran mengapa selama ini para ulama melarang keras penerjemahan dan penafsiran Al-Qur`an ke dalam bahasa Jawa. Bukankah Al-Qur`an adalah bimbingan hidup bahagia dan sejahtera bagi manusia?”

Dialog berhenti sampai di situ. Dalam tulisan Nyai Fadhila, kelanjutan ceritanya Kyai Sholeh tak bisa berkata apa-apa kecuali “Subhanallah”. Kartini telah menggugah kesadaran Kyai Sholeh untuk melakukan pekerjaan besar yaitu menerjemahkan Al-Quran ke dalam bahasa Jawa.

Dalam pertemuan itu R.A Kartini meminta agar Qur’an diterjemahkan karena menurutnya tidak ada gunanya membaca kitab suci yang tidak diketahui artinya.  Tetapi pada waktu itu penjajah Belanda secara resmi melarang orang menerjemahkan Al-Qur`an. Kyai Sholeh Darat melanggar larangan ini. Beliau menerjemahkan Qur`an dengan tulisan huruf “Arab gundul” (pegon) sehingga tak dicurigai penjajah.

Kitab tafsir dan terjemahan Qur’an ini diberi nama Kitab ‘Faidhur-Rohman’, tafsir pertama di Nusantara dalam bahasa Jawa dengan aksara Arab. Kitab ini pula yang dihadiahkannya kepada R.A. Kartini pada saat dia menikah  dengan R.M. Joyodiningrat, seorang Bupati Rembang.  Kartini amat menyukai hadiah itu dan mengatakan :

“Selama ini Al-Fatihah gelap bagi saya.  Saya tak mengerti sedikitpun maknanya. Tetapi sejak hari  ini ia menjadi terang-benderang sampai kepada makna tersiratnya, sebab Romo Kyai telah menerangkannya dalam bahasa Jawa yang saya pahami”.

Melalui terjemahan Mbah Sholeh Darat itulah RA Kartini menemukan ayat yang amat menyentuh nuraninya yaitu:

Orang-orang beriman dibimbing Allah dari gelap menuju cahaya (Q.S. al-Baqoroh: 257).

Surat yang diterjemahkan Kyai Sholeh adalah Al Fatihah sampai Surat Ibrahim. Kartini mempelajarinya secara serius, hampir di setiap waktu luangnya. Namun sayangnya penerjemahan Kitab Faidhur-Rohman ini tidak selesai karena Kyai Sholeh Darat sudah wafat sebelum menafsirkan seluruh surat dalam Al-Qur`an.

Kyai Sholeh membawa Kartini ke perjalanan transformasi spiritual. Pandangan Kartini tentang Barat (Eropa) berubah. Dalam suratnya kepada Ny Van Kol, tanggal 21 Juli 1902, Kartini menulis :

“Saya bertekad dan berupaya memperbaiki citra Islam, yang selama ini kerap menjadi sasaran fitnah. Semoga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat agama lain memandang Islam sebagai agama disukai”.

Kemudian dalam surat ke Ny Abendanon, bertanggal 1 Agustus 1903, Kartini menulis;

“Ingin benar saya menggunakan gelar tertinggi, yaitu Hamba Allah”.


Sekian. Wallahu a’lam bisshowab.

(Diolah dari berbagai sumber)


*Penulis adalah anggota JQH 2017 sekaligus Wakil Koord. Humas 2020.


Posting Komentar

0 Komentar