Slide Show

  • Ketika tampil di Kampus 3 UIN Walisongo
  • Anggota JQH setelah selesainya kegiatan Gebyar Festifal Islami 2014
  • Bersama Kyai Bisri Musthofa pada acara Semarak Miladiyyah UKM JQH tahun 2013
  • Keluarga JQH ketika muncak di Gunung Ungaran
  • Dalam acara UIN Walisongo Mengaji, Semarak Miladiyyah JQH eL-Fasya ke-23 2017
  • Kegiatan pengenalan calon anggota baru sebelum mengikuti OPTIKA
  • Divisi Arab saat belajar bersama di wisata alam Semarang
  • Setelah melakukan latihan rutin Divisi dan setelah menyelesaikan kegiatan di PRPP Semarang
  • Anggota JQH di UINSIQ Wonosobo tahun 2016
  • Bertepatan dengan PHBI Bulan Maulid 2017
  • Bersama Habib Rizal Semarang
  • Tampil di acara FEBI FAIR 2018
  • Tampil Mengisi Penutupan Acara FSI HIQMA UIN Syarif Hidayatulloh Jakarta2018
  • Penampilan Salah Satu Peserta Lomba Rebana dalam Acara GFI JQH
  • Bersama Gus Mus Dari Rembang
  • Di Taman Miniatur Surga Bandungan

DIBALIK BERUBAHNYA HAGIA SOPHIA MENJADI MASJID WALAU DUNIA TAK MERESTUI

Sumber Gambar : Sindo News

(Part 1)
Oleh : Mukti Bagus Panuntun*

Hantaman komentar bertubi-tubi yang diterima Turki dari berbagai negara mencuat di berbagai media Internasional. Hal ini dikarenakan keputusan dari Pengadilan Turki yang diumumkan presiden Recep Tayyip Erdogan bahwa Hagia Sophia mulai Jum’at 10 Juli 2020 resmi dirubah dari museum ke masjid. Hal ini mengundang berbagai respon Internasional karena bangunan tersebut merupakan bangunan paling bersejarah yang telah mengalami banyak peristiwa dan mengarungi berbagai zaman peradaban. Bangunan tersebut sangat berharga bagi seluruh umat manusia, meskipun kedigdayaannya berada di wilayah kedaulatan Turki. Ketika pengalihfungsian menjadi masjid kembali diumumkan, kecaman demi kecaman terus menyudutkan pemerintah Turki, namun Erdogan tak gentar menyikapinya. Komentar buruk, provokasi, dan ancaman yang dikutip dari Anadolu Agency diantarannya dari Menteri Luar Negeri Amerika, Menteri Luar Negeri Siprus, Uni Eropa, Pemerintahan Yunani, dan Paus Gereja Kristen Ortodoks Rusia. Di internal negara sendiri juga di tentang oleh partai oposisi CHP (Partai Rakyat Republik Turki) yang didirikan oleh Mustafa Kemal.   

Karena menjadi bagian dari salah satu warisan dunia UNESCO, organisasi di bawah PBB ini juga menyampaikan kekecewaan atas perubahan fungsi bangunan. Sebenarnya perubahan status Hagia Sophia menjadi masjid tidak berdampak signifikan terhadap bangunan karena tidak rusak sama sekali dan meskipun berubah jadi masjid, pemerintah Turki menyatakan Hagia Sophia terbuka bagi siapa saja dan barang-barang koleksi museum tetap masih bisa dinikmati semua kalangan. Pengalihfungsian Hagia Sophia menjadi masjid kembali akan dimulai pada tanggal 24 Juli 2020, diawali sholat Jum’at persis seperti saat Sultan Muhammad II Alfatih/ Sultan Mehmed II meresmikan Hagia Sophia menjadi masjid setelah berhasil menduduki Konstantinopel.   

Sejarah Berdirinya Hagia Sophia

Hagia Sophia atau Aya Sophia memliki arti “Kebijaksanaan Suci”. Dalam sejarah tercatat ada tiga kali pembangunan. Pertama, diprakarsai oleh Constantie II (ada yang menyebut pembangunan sudah sejak Constantie I Yang Agung) sekitar abad ke 4 Masehi dengan nama Magna Ecclesia. Wujud bangunan masih berbahan kayu. Pada saat terjadi kerusuhan 404, bangunan Hagia Sophia terbakar habis tanpa sisa. Kedua, oleh Theodosius pada abad ke 5 Masehi yang dirancang oleh arsitek Rufinus, dengan bahan batu marmer dan kayu, akhirnya hancur juga saat terjadi kerusuhan Nika pada tahun 532. Namun beberapa ornamen marmer masih bertahan hingga sekarang. Ketiga, oleh Justinian I. Setelah beberapa kehancuran bangunan lama ia merekrut pakar geometri Isidore dan pakar matematika Anthemius untuk merancang bangunan paling megah dari bangunan sebelumnya. Setelah selesai pada tahun 537, Justinian mengadakan selamatan dan mengatakan bahwa ia sudah mengalahkan Bait Sulaiman dengan membangun bangunan ini yang sampai sekarang masih berdiri megah, sedangkan mosaik-mosaik dalam bangunan ditambahkan oleh Justinian II.

Hagia Sophia sempat mengalami berbagai kerusakan akibat bencana seperti gempa bumi ditahun 553 dan 557, kebakaran tahun 859, gempa bumi hebat tahun 989 dan pada tahun 1204, perang Salib sempat melanda Konstantinopel. Hagia Sophia menjadi gereja Katedral Katholik Roma hingga tahun 1261, setelah itu kembali menjadi gereja Orthodoks di bawah Bizantium. Setelah kejatuhan Konstantinopel di tangan Sultan Mehmed II, Hagia Sophia beralih fungsi sebagai masjid. Secara simbolis seorang ulama membacakan Syahadat di Hagia Sophia untuk “mengislamkan” Hagia Sophia. Sholat Jum’at pertama diadakan tiga hari setelah penaklukan Konstantinopel. Setelahnya Sultan Mehmed II membangun Bazar, tempat peristirahatan, dan pusat perekonomian di sekitar Hagia Sophia.

Sebelum tahun 1481 satu minaret ditambahkan di bangunan Hagia Sophia. Kemudian ditambah lagi pada masa pemerintahan Beyazid II namun hancur akibat gempa bumi di tahun 1509. Pada masa Sultan Sulaiman Al Qanuni, ia membawa oleh-oleh dua tugu lilin dari penaklukan Hungaria dan menaruhnya di sekitar mihrab. Di tahun pemerintahan Sultan Selim II, ia mempekerjakan arsitek Mimar Sinan untuk mengatasi masalah gempa bumi yang entah sudah berapa kali merusak Hagia Sophia sekaligus menambahkan menara di pinggir-pinggir bangunan. Pada masa Sultan Abdul Mecid, ia menyewa arsitek Italia Gaspare dan Giuseppe Fossati untuk merenovasi pada tahun 1874. Beberapa kaligrafi ditambahkan, antara lain kaligrafi Allah, Muhammad, Khulafaurrasyidin, Hasan, dan Husain.

Setelah berakhirnya Perang Dunia I pada 1918, Kekaisaran Utsmaniyah/ Ottoman mengalami kekalahan. Wilayahnya dipecah-pecah oleh negara-negara Sekutu sebagai pihak yang menang. Namun, kekuatan nasionalis bangkit dan menciptakan Turki Modern. Pendiri Turki Modern dan presiden pertama Republik Sekuler Mustafa Kemal Ataturk, memerintahkan agar Hagia Sophia diubah menjadi museum. Dialah orang yang merubah tatanan negara Turki seperti sekarang termasuk yang merubah dari masjid ke musem. Meski kerap dipuja masyarakat Turki nasionalis sebagai bapak bangsa berkat jasanya menyelamatkan Turki dari kehancuran, namun kebijakannya yang kontroversial sangat ditentang oleh sebagian masyarakat Turki terlebih kalangan Islamis.

Pasca Perang Dunia I kesultanan Utsmani memang sudah terlihat lemah karena pemerintahan diduduki Inggris dan masalah dari eksternal yang terus menekan. Sehingga di tangan Revolusi muda Turki membuat Mustafa Kemal menggelar Kongres Dewan Nasional. Mustafa yang mendapat pendidikan ala barat kemudian melakukan perubahan besar-besaran yakni Sekulerisme, dimana kepentingan kenegaraan di pisahkan dari agama, karena kebijakan tersebut pula Mustafa Kemal menerapkan gaya barat di banyak sektor seperti mengubah sistem negara dari Kesultanan menjadi Republik. Perubahan sistem kenegaraan ala barat yang digagas Mustafa Kemal sangat general kepada barat tanpa melakukan asimilasi dengan sistem Utsmani yang sudah ada sejak 600-an tahun lalu. Kebijakan kontroversial diantaranya mengubah tatanan Islam dengan gaya baru (nasionalis) seperti tidak memperbolehkan menggunakan jilbab di ranah publik, mengubah tulisan resmi kesultanan Utsmani dari Arab ke Latin dan membuat bahasa sendiri yakni bahasa Turki. Setelah bahasa Turki terbentuk dan menyebarluas kemudian mengubah adzan, lantunan, dan teks-teks Islam dari bahasa Arab ke bahasa Turki.

Setelah Mustafa Kemal Attaturk menjadi Presiden Turki untuk pertama kalinya ia menutup Hagia Sophia di tahun 1931. Setelah direnovasi dan menjalani status hukum oleh Pengadilan Tinggi Turki yang menyatakan bahwa Hagia Sophia di rubah menjadi museum pada 1934, dan dibuka untuk umum pada tahun 1935. Usut punya usut ternyata perubahan menjadi museum merupkan permintaan dari pendiri Institut Bizantium Amerika, Thomas Whittemore yang mempunyai bersahabat dekat dengan Mustafa Kemal. Sejak difungsikan menjadi museum siapapun dilarang beribadah di seluruh gedung Hagia Sophia. Namun pada tahun 2006 pemerintah mengalokasikan ruangan khusus di komplek museum untuk sholat staf museum. Pengalihfungsian Hagia Sophia menjadi museum dianggap tindakan yang ilegal oleh Pengadilan pada masa pemerintahan Erdogan. Pengadilan menyatakan Hagia Sophia merupakan properti milik Sultan Mehmed II dan digunakan sebagai masjid tanpa membayar, bukan wewenang parlemen maupun Dewan Kementeriann era Mustafa Kemal untuk mengubah statusnya menjadi apapun termasuk museum.

Bersambung...

Posting Komentar

0 Komentar