Slide Show

  • Ketika tampil di Kampus 3 UIN Walisongo
  • Anggota JQH setelah selesainya kegiatan Gebyar Festifal Islami 2014
  • Bersama Kyai Bisri Musthofa pada acara Semarak Miladiyyah UKM JQH tahun 2013
  • Keluarga JQH ketika muncak di Gunung Ungaran
  • Dalam acara UIN Walisongo Mengaji, Semarak Miladiyyah JQH eL-Fasya ke-23 2017
  • Kegiatan pengenalan calon anggota baru sebelum mengikuti OPTIKA
  • Divisi Arab saat belajar bersama di wisata alam Semarang
  • Setelah melakukan latihan rutin Divisi dan setelah menyelesaikan kegiatan di PRPP Semarang
  • Anggota JQH di UINSIQ Wonosobo tahun 2016
  • Bertepatan dengan PHBI Bulan Maulid 2017
  • Bersama Habib Rizal Semarang
  • Tampil di acara FEBI FAIR 2018
  • Tampil Mengisi Penutupan Acara FSI HIQMA UIN Syarif Hidayatulloh Jakarta2018
  • Penampilan Salah Satu Peserta Lomba Rebana dalam Acara GFI JQH
  • Bersama Gus Mus Dari Rembang
  • Di Taman Miniatur Surga Bandungan

Tragedi Pembantaian Cucu Rasulullah pada 10 Muharram


Imam Husain AS
(tokopedia)

Karbala merupakan salah satu kota suci bagi kaum Syiah di Irak, sekitar 140 km di selatan Baghdad. Di kota inilah terdapat makam Husain bin Ali bin Abi Thalib (4 H/ 626 M - 61 H/680 M), keluarga dan pengikutnya yang dibunuh oleh pasukan Umayah pada hari Asyura tanggal 10 Muharram 61 H (10 Oktober 680 M), dibawah pimpinan Ubaidullah bin Ziyad, cucu Abu Sufyan dan Gubernur Persia di bawah kendali Khalifah Yazid bin Muawiyah atau Yazid I. Abu Sufyan sendiri adalah pembesar Mekkah, yang sebelum dibebaskan oleh Islam, ia menjadi musuh bebuyutan Nabi Muhammad, dan klannya. Bani Umayyah adalah musuh besar klan Bani Hasyim, darimana keluarga Nabi berasal (juga keluarga Ali bin Abi Thalib). Tampaknya dendam kesukuan model Arab Jahiliah tetap terpelihara pada anak cucu Abu Sufyan, walaupun secara lahiriah mereka sudah menganut Islam sebagai agamanya, dan yang menjadi sasaran adalah anak cucu Nabi Muhammad, yang seharusnya dimuliakan oleh setiap orang muslim.  Di Karbala ini juga dimakamkan  Abbas bin Abdul Mutholib, paman Nabi Muhammad SAW. 

Akan tetapi sebagaimana tercatat dalam sejarah, persoalan Muawiyah dan keturunanya mendendam kepada keluarga Nabi memang faktor dendam darah sebagai watak bangsa Arab Jahiliah. Sebagaimana diketahui, pada waktu perang Badar, pemuda yang ditunjuk sebagai ujung tombak pasukan muslim adalah Ali bin Abi Thalib. Ali lah yang kemudian membunuh Uthbah bin Rabiah (kakek Muawiyah dari Ibunya), Walid bin Uthbah (paman Muawiyah dari Ibunya), dan Handzalah bin Abi Sufyan (saudara Muawiyah).

Sejak saat itu Muawiyah sudah mendendam kepada Rasulullah dan Ali, hanya karena belum memiliki kesempatan, maka ia masih bertiarap sambil tetap melakukan gerakan bawah tanah, dengan menunjuk Marwan bin Hakam sebagai pimpinan agen rahasianya. Saat Utsman bin Affan (keluarga besar bani Umayah) menjadi khalifah, Muawiyah meminta jatah jabatan kepada Utsman, dan ia jadikan Gubernur di Syam mulai saat itu ia membuat gerakan terang-terangan memusuhi keluarga Nabi. 

Muawiyah dan keluarganya kemudian masuk Islam dalam keadaan terpaksa, yakni karena mereka sudah tidak memilki kekuatan lagi di Makkah. Keislaman Muawiyah diduga hanya sebagai taktik dan strategi jangka panjang, agar dapat membalas dendam kepada Ali khususnya keluarga Nabi. Setelah khalifah Utsman wafat, Muawiyah sendiri mendapat moment puncaknya yakni mengakat dirinya sebagai khalifah serta menyatakan perang pada Ali serta keluarga Nabi. 

Pagi hari, 10 Muharram 61 H, melihat pasukan Umar bin Saad yang demikian besarnya, Husain mengatur posisi para pengawalnya Zuhair bin Kayn berjaga-jaga di sebelah kanan perkemahan, sementara Habib bin Muzahir disebelah kirinya. Pada hari itu, pasukan Husain sempat melaksanakan sholat dzuhur (ada yang mengatakan sholat khauf). Pada sore hari itulah terjadi pertempuran yang sangat tidak seimbang, dan sebenarnya sangat memalukan. Seperti ribuan kawanan iblis dan serigala yang mengeroyok 72 orang manusia kecil, sebagian besar wanita dan anak-anak yang pernah disayangi Rasulullah. Yang mula-mula terbunuh adalah Ali Al Akbar bin Husain, anak Muslim bin Uqail dan Abdullah bin Jafar, kemudian Qasim bin Hasan, keponakan Husain, cicit Rasulullah. Ali Asghar sendiri (anak Husain) meninggal dihujam tombak dan ditebas dengan pedang, padahal ia bayi di bawah dua tahun.

Kesyahidan Husain sangat tragis, setelah terlebih dahulu dibiarkan kehausan dari pagi sampai sore sambil terus menerus diserang. Diperintahkan pasukan khusus yang dipimpin Syammar bin Ziljausan, panglima haus darah, menyerangnya. Imam Husain dikeroyok ramai-ramai, secara bergantian, sehingga Husain terpisah dari kemahnya. Yang pertama kali tercatat berhasil melukai Husain adalah Abul Hunuq Al Jufi membidikkan panahnya ke arah Imam Husain AS. Anak panah itu menancap tepat di dahi beliau. Imam menariknya dari dahi suci itu. Tak ayal darah segar langsung mengalir dengan derasnya dan membasahi wajah beliau. 

Ketika Husain beristirahat sejenak dari peperangan, tanpa diduga, salah seorang tentara pasukan Syammar melemparkan batu tepat ke wajah beliau sampai berdarah. Kemudian Husain membalut lukanya dengan kain. Pada saat itu tentara pemanah Umar bin Saad  melepaskan panah bermata tiga dari arah belakang, dan tepat mengenai dada beliau tembus ke punggung. Terdengar beliau berkata, Bismillah, wabillah, waala millati Rasulullah. Beliau mengerahkan tenaga mencabut panah dari arah punggungnya, dan darah mengucur deras, yang kemudian diraupkan ke wajah beliau, sambil berdoa, Ya, Allah mudahkanlah kematian ini.

Saat itu Husain bangkit dari keletihannya dan bersiap untuk bertempur kembali. Sementara sejak dari pagi dilarang untuk minum air dari sungai Eufrat. Beliau sendiri saat itu sudah berusia 55 tahun dan dalam kondisi sakit. Husain membagikan beberapa nasihat kepada para tentara Ibnu Ziyad, agar tidak membela kezaliman. Namun nasihat tersebut disambut Malik bin Nashr dengan menghantamkan gagang pedangnya ke kepala itu kembali mengucurkan darah dan sang imam terduduk, tidak mau bangkit kembali. 

Saat itu serombongan prajurit datang untuk mengeroyok Husain, dan pada saat yang sama, ada seorang remaja dengan gagah berani melindungi Husain, yakni Abdullah bin Hasan keponakan dan cicit Rasulullah. Ia tidak menghiraukan lagi panggilan Zainab (anak perempuan Husain) agar kembali karena bahaya yang mengancam dirinya. Karena tebasan pedang pasukan  Samir, yakni  Bahr bin Kaab, tangan anak itu terputus. Sementara Husain menghiburnya, bahwa ia akan bertemu dengan neneknya (yakni Fatimah Az Zahra) di surga. Saat Abdullah di pangkuan Husain itulah, Harmalah bin Kahin, tentara Umar bin Hasan gugur dipangkuan Husain.

Dalam kondisi kritis tersebut, tidak ada lagi prajurit yang  maju menyerang Husain, karena tidak mau disebut sebagai pembunuh cucu Rasulullah. Suasana panas, kepedihan hati karena berbagai nasehatnya sudah tidak di gubris lagi oleh pasukan Ibn Ziyad, lelah dan kehausan membuat Husain lelah dan lengah. Pada saat yang sama Syammar beteriak Hai apalagi yang kalian tunggu? Cepat habisi dia! prajurit terprovokasi. Akhirnya Zarah bin Syariq dari pihak Syammar menebas lengannya serta pundaknya, salah satu prajurit Kufah bernama Hushain menusukkan tombak ke leher beliau, seorang lagi mengayunkan lagi pedang ke leher beliau, Sinnan bin Anis ambil bagian dengan menusuk dadanya, Shalih  bin Wahab menyerangkan pedadangnya ke pinggang Husain, dan setelah jasad Imam Husain jatuh terlentang, Syammar bin Ziljausan dengan wajah menyeringai kejam, menaiki dada Husain pada ujung tombaknya. Selain itu, hampir semua anggota badan Husain dipotong-potong (mutilasi), dipisahkan dari tubuhnya. Naudzubillah. Teriakan para perempaun suci dan anak kecil tidak dihiraukan lagi oleh para durjana pembantai laknatullah yang mengantarkan kesyahidan Sayyidina Husain dan membuatnya tetap dikenang di benak kaum muslim sampai sekarang.   

Akhirnya kepala Husain beserta wanita dan putra Husain dibawa ke kota Kufah untuk dipersembahkan kepada Gubernur Abdullah bin Ziyad, kemudian dikirim dengan  suatu perutusan kepada Khalifah Yazid di Damaskus. Para wanita keluarga Rasulullah dipermalukan dengan digiring dipertontonkan dari kota satu ke kota yang lain, dari Karbala sampai Damaskus dengan tangan terikat. 

Kecintaan Nabi Muhammad terhadap cucunya terlihat pada hadist antara lain riwayat Imam al Tirmidzi : Husain dari aku, dan aku dari Husain. Semoga Allah mencintai orang yang mencintainya. Husain adalah cucu yang paling aku cintai. Hasan dan Husain memberi rasa harum kepadakku di dunia. Siapa yang ingin melihat laki-laki ahli surga, lihatlah Husain (al jami al shahih, 5/324, hadis no.3864). Pernah juga ketika Nabi SAW menggendong Husain dipundaknya, beliau berdoa Ya Allah, aku sangat mencintainya. Cintailah ia ya Allah. Hasan dan Husain di didik langsung oleh Rasulullah, disamping oleh kedua orangtuanya yang shalih, Ali bin Abi Thalib dan Fathimah. 

Tubuh Husain disemayamkan di Karbala, Irak. Sementara kepalanya oleh Khalifah Yazid dikuburkan di pemakaman Baqi, Madinah, disamping makam ibunya, Fatimah al Zahra, dan di sisi saudaranya, Hasan bin Ali. 


Pada tanggal 8 Syawal 1334 H atau 21 April 1926, pemakaman Baqi yang berisi jasad manusia-manusia suci keluarga Nabi dan para sahabat terdekat diratakan dengan tanah oleh pemerintah Arab Saudi yang beraliran Wahabi, dan masiih menaruh dendam lama kepada ahl al bait yang menyatakan diri sebagai al khadim al haramayn, pelayan 2 kota suci.

Kisah heroik Imam Hasan dan Imam Husain selalu berkesan di sanubari umat islam, sehingga mereka merasa harus mengadakan ritual yang dimaksudkan untuk menunjukkan rasa hormat dan cinta mereka kepada dua anak manusia kesayanagan Rasulullah. Umat islam jawa memperingatinya dengan bubur coklat putih yang disebut dengan bubur Hasan-Husain atau dalam lidah Jawa bubur Kasan-Kusen.




(Mukti B. Panuntun)
Sumber : Misteri Bulan Suro Perspektif Islam Jawa, KH. Muhammad Sholikhin.

Posting Komentar

0 Komentar