Slide Show

  • Ketika tampil di Kampus 3 UIN Walisongo
  • Anggota JQH setelah selesainya kegiatan Gebyar Festifal Islami 2014
  • Bersama Kyai Bisri Musthofa pada acara Semarak Miladiyyah UKM JQH tahun 2013
  • Keluarga JQH ketika muncak di Gunung Ungaran
  • Dalam acara UIN Walisongo Mengaji, Semarak Miladiyyah JQH eL-Fasya ke-23 2017
  • Kegiatan pengenalan calon anggota baru sebelum mengikuti OPTIKA
  • Divisi Arab saat belajar bersama di wisata alam Semarang
  • Setelah melakukan latihan rutin Divisi dan setelah menyelesaikan kegiatan di PRPP Semarang
  • Anggota JQH di UINSIQ Wonosobo tahun 2016
  • Bertepatan dengan PHBI Bulan Maulid 2017
  • Bersama Habib Rizal Semarang
  • Tampil di acara FEBI FAIR 2018
  • Tampil Mengisi Penutupan Acara FSI HIQMA UIN Syarif Hidayatulloh Jakarta2018
  • Penampilan Salah Satu Peserta Lomba Rebana dalam Acara GFI JQH
  • Bersama Gus Mus Dari Rembang
  • Di Taman Miniatur Surga Bandungan

Tak Ingin Merugi di Bulan Ramadhan

Sumber gambar : www.google.com

Oleh: Syukur Abdillah*

Bulan Ramadhan bagai tamu agung yang ditunggu-tunggu oleh umat Muslim. Di bulan ini, pintu ampunan dibuka selebar-lebarnya dan samudra pahala terbentang luas. Asyik bukan? Di samping adanya kewajiban berpuasa sebulan penuh, momentum ini seharusnya dimanfaatkan sebaik mungkin untuk mengisi bulan Ramadhan dengan berbagai hal yang bermanfaat, berlomba-lomba mendapatkan pahala sebanyak-banyaknya dan mengerjakan rutinitas sehari-hari dengan niat yang tulus hanya untuk Allah semata. Sangat disayangkan jika seseorang tidak mampu meraup keuntngan (pahala) di bulan suci ini.


Betapa ruginya, jika seseorang menunaikan puasa tetapi tidak memenuhi adab dan aturannya. Rasulullah SAW pernah menyebutkan bahwa ada banyak orang yang berpuasa tanpa hasil apapun kecuali hanya lapar dan dahaga. Mungkin masih banyak orang yang menyepelekan perkara-perkara kecil, yang malah menjadikan puasa Ramadhannya sia-sia. 

Lalu, perkara apa sajakah  yang justru membuat puasa kita rugi? Berikut penjelasannya :

Berkata Dusta (az zuur)


Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta malah mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan” (HR. Ibnu Majah no. 1689).

As Suyuthi mengatakan bahwa az zuur adalah berkata dusta dan memfitnah (buhtan). Sedangkan mengamalkannya berarti melakukan perbuatan keji yang konsekuensinya telah Allah larang.

Maksud konteks tersebut adalah orang-orang yang selama berpuasa hanya menahan haus dan lapar saja, yang tidak bisa menahan lisannya berucap hal-hal yang baik. Termasuk dari perkataan dan tindakan zur adalah memberikan kesaksian palsu, menggunjing, memfitnah, menuduh zina, mencela, melaknat dan perkataan-perkataan lainnya yang tidak bermanfaat.

Berkata lagwu (sia-sia) dan rofats (kata-kata kotor)

Amalan yang kedua yang membuat puasa seseorang menjadi sia-sia adalah perkataan lagwu dan rofats.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

لَيْسَ الصِّيَامُ مِنَ الأَكْلِ وَالشَّرَبِ ، إِنَّمَا الصِّيَامُ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ ، فَإِنْ سَابَّكَ أَحَدٌ أَوْ جَهُلَ عَلَيْكَ فَلْتَقُلْ : إِنِّي صَائِمٌ ، إِنِّي صَائِمٌ

Puasa bukanlah hanya menahan makan dan minum saja. Akan tetapi, puasa adalah dengan menahan diri dari perkataan lagwu dan rofats. Apabila ada seseorang yang mencelamu atau berbuat usil padamu, katakanlah padanya, “Aku sedang puasa, aku sedang puasa” (HR. Ibnu Majah dan Hakim). Syaikh Al Albani dalam Shohih At Targib wa At Tarhib no. 1082 mengatakan bahwa hadits ini shohih.

Apa yang dimaksud dengan lagwu? Dalam Fathul Bari (3/346), Al Akhfasy mengatakan :

اللَّغْو الْكَلَام الَّذِي لَا أَصْل لَهُ مِنْ الْبَاطِل وَشَبَهه

Lagwu adalah perkataan sia-sia dan semisalnya yang tidak berfaedah”.

Lalu apa yang dimaksudkan dengan rofats? Dalam Fathul Bari (5/157), Ibnu Hajar mengatakan
:

وَيُطْلَق عَلَى التَّعْرِيض بِهِ وَعَلَى الْفُحْش فِي الْقَوْل

“Istilah Rofats digunakan dalam pengertian ‘kiasan untuk hubungan badan’ dan semua perkataan keji”.

Melakukan Berbagai Macam Maksiat

Seperti yang kita ketahui, puasa bukan saja menahan diri dari makan dan minum saja, namun menahan diri dari syahwat dan perbuatan maksiat. Coba perhatikan petuah dari Ibnu Rojab Al Hambali berikut :

Ketahuilah, amalan taqorub (mendekatkan diri) pada Allah Ta’ala dengan meninggalkan berbagai syahwat (yang sebenarnya mubah ketika di luar puasa seperti makan atau berhubungan badan dengan istri) tidak akan sempurna hingga seseorang mendekatkan diri pada Allah dengan meninggalkan perkara yang Dia larang yaitu dusta, perbuatan zholim, permusuhan di antara manusia dalam masalah darah, harta dan kehormatan” (Latho’if Al Ma’arif, 1/168, Asy Syamilah).
Sejelek-jelek puasa yaitu hanya menahan lapar dan dahaga saja. Hendaknya seseorang menahan anggota badan lainnya dari berbuat maksiat. Ibnu Rojab mengatakan :

أَهْوَنُ الصِّيَامُ تَرْكُ الشَّرَابِ وَ الطَّعَامِ

Tingkatan puasa yang paling rendah hanya meninggalkan minum dan makan saja.

Itulah di antara perkara yang bisa membuat amalan puasa seseorang menjadi sia-sia. Betapa banyak orang yang masih melakukan hal tersebut. Begitu mudahnya mereka mengeluarkan kata-kata kotor, dusta, tidak berfaidah, menggunjing orang lain dan masih melakukan maksiat. Jadi, jangan sampai kita menjadi orang yang merugi dan puasa kita sia-sia hanya karena perbuatan di atas.

Wallahua’lam bis shawab

*Penulis adalah anggota JQH 2019

Posting Komentar

0 Komentar