Slide Show

  • Ketika tampil di Kampus 3 UIN Walisongo
  • Anggota JQH setelah selesainya kegiatan Gebyar Festifal Islami 2014
  • Bersama Kyai Bisri Musthofa pada acara Semarak Miladiyyah UKM JQH tahun 2013
  • Keluarga JQH ketika muncak di Gunung Ungaran
  • Dalam acara UIN Walisongo Mengaji, Semarak Miladiyyah JQH eL-Fasya ke-23 2017
  • Kegiatan pengenalan calon anggota baru sebelum mengikuti OPTIKA
  • Divisi Arab saat belajar bersama di wisata alam Semarang
  • Setelah melakukan latihan rutin Divisi dan setelah menyelesaikan kegiatan di PRPP Semarang
  • Anggota JQH di UINSIQ Wonosobo tahun 2016
  • Bertepatan dengan PHBI Bulan Maulid 2017
  • Bersama Habib Rizal Semarang
  • Tampil di acara FEBI FAIR 2018
  • Tampil Mengisi Penutupan Acara FSI HIQMA UIN Syarif Hidayatulloh Jakarta2018
  • Penampilan Salah Satu Peserta Lomba Rebana dalam Acara GFI JQH
  • Bersama Gus Mus Dari Rembang
  • Di Taman Miniatur Surga Bandungan

The Power of Pre-Order

Sumber ganbar : www.google.com

(Penerapan Sistem salam dan Isthisna’ Pada Jual Beli Modern)
Oleh : Darma Taujiharrahman 
(Koordinator Div. Tafsir dan Bahstul Kutub)

Salam dan Isthisna’ adalah salah satu sistem jual beli yang sangat memberikan kemudahan bagi penjual (produsen) yang mana tidak mengesampingkan kepuasan pembeli (pemesan). Sistem ini disebut dengan jual beli Inden, namun istilah inden belakangan ini lebih dikenal dengan sebutan Pre-Order (PO). Intinya, jual beli inden ataupun pre-order semuanya tergolong dalam sistem salam maupun isthisna’.

Sistem isthisna’ adalah suatu sistem jual beli yang dilakukan dengan cara pemesanan terlebih dahulu sesuai spesifikasi dan keinginan pembeli dengan metode pembayaran yang dilakukan berdasarkan kesepakatan para aktor jual beli. Ada yang menyerahkan uang muka (DP), ada pula yang mengangsur dalam jangka waktu tertentu, serta ada yang langsung melunasi di awal akad (akad salam), dan lain sebagainya. Dalam kitab Syarh Fathul Qarib dicontohkan pada paktek, “Memesan pakaian maka hendaknya menyebutkan jenisnya seperti dari kapas, katun atau sutra dan menyebutkan pula tentang macamnya”.

Ketentuan utama yang harus dipenuhi dalam jual beli menggunakan sistem ini adalah spesifikasi barang, metode pembayaran dan tempo penyerahan barang yang harus disepakati di awal akad dan tidak diperbolehkan adanya perubahan kecuali dengan kesepakatan antara dua pihak yang berkontrak.

Secara hukum sistem ini telah dihalalkan oleh Dewan Syariah Nasional  Majlis Ulama Indonesia (DSN-MUI) dalam fatwanya nomor : 05/DSN-MUI/IV/2000 dan 06/DSN-MUI/IV/2000 tentang “Jual Beli Salam dan Isthisna’” sehingga para pelakon bisnis syariah tidak perlu ragu untuk menggunakan sistem ini dalam mengawali bisnisnya.


Salah satu keuntungan dan kemudahan yang paling menonjol dalam sistem ini adalah penjual (produsen) tidak harus menyediakan stok produk jadi (ready stock) untuk dijual, sehingga dapat menghemat modal dan menghadirkan produksi yang lebih efektif dan efisien. Selain itu dari pihak pemesan (pembeli) dapat memesan dan membeli barang yang sesuai dengan keinginan, kebutuhan dan selera yang akan dapat memberikan nilai kepuasan lebih kepada pelanggan. Akan tetapi, kita tetap akan menjumpai kelemahan dalam sistem ini, karena memang tidak ada sistem yang paling sempurna (tanpa cacat). Berikut beberapa kelemahan sistem isthisna’ versi penulis.

Pertama, jika barang dibutuhkan pada waktu yang setempat atau waktu yang cepat (mendadak), kondisi produk yang tidak ready stock mengakibatkan penjual tidak dapat melayani pembeli dengan baik ketika dalam kebutuhan yang mendadak.

Kedua, ketika pesanan banyak maka akan terjadi antri produksi yang banyak, sehingga pembeli harus rela mengantri lebih lama lagi.

Dan ketiga adalah ketika produk yang dihasilkan tidak sesuai dengan keinginan konsumen. Hal ini seringkali disebabkan beberapa faktor dari pihak produsen ataupun pihak produsen.

Berdasarkan hasil wawancara dengan empat responden yang menjadi aktor dalam bisnis sistem pre-order, yaitu dua diantaranya merupakan pemula bisnis pre-order dan dua lainnya merupakan konsumen, bisa diambil kesimpulan bahwa : pertama, sistem pre-order sangat cocok bagi para pemula bisnis dalam bidang makanan ataupun aksesoris, karena dengan adanya pre-order penjual dapat menganalisis jumlah peminat serta selera yang diinginkan konsumen mereka. Selain itu cukup dengan skill, modal seadanya dan teknologi informasi (media sosial) bisnis pre-order dapat langsung berjalan.

Kedua, penjual (produsen) tidak perlu membuka lapak khusus karena pemasaran bisa dilakukan hanya dengan menggunakan media sosial. Sedangkan produksi dapat dilakukan di rumah atau di kos yang sudah ada. Selain itu penjulan (produsen) lebih dimudahkan dalam mengatur waktu produksi dan penjualan, terkhusus bagi mereka yang masih berada di bangku sekolah.

Ketiga, konsumen tidak perlu berebut karena barang yang di pre-order akan diproduksi sesuai jumlah pesanan.

Keempat, konsumen dapat memesan barang sesuai selera dengan spesifikasi yang diinginkan dan sangat cocok digunakan sebagai hadiah untuk yang tersayang.

Sistem pre-order akan menjadi solusi konkrit bagi para pelajar atau mahasiswa dalam memulai bisnisnya, pasalnya keterbatasan modal dan waktu yang mana seringkali menjadi alasan mereka takut untuk memulai bisnisnya akan dapat terselesaikan dengan sistem ini tapi tentunya harus diikuti dengan keberanian dan tekad yang kuat. Dengan didukung oleh kecepatan teknologi informatika yang terhubung dari satu daerah ke daerah yang lain, maka akan menjadikan sistem ini sangat efektif bagi bisnis yang masih baru maupun bisnis yang sudah berjalan bahkan tidak sedikit perusahaan besar yang menggunakan bisnis dengan sistem ini.

Posting Komentar

0 Komentar