Slide Show

  • Ketika tampil di Kampus 3 UIN Walisongo
  • Anggota JQH setelah selesainya kegiatan Gebyar Festifal Islami 2014
  • Bersama Kyai Bisri Musthofa pada acara Semarak Miladiyyah UKM JQH tahun 2013
  • Keluarga JQH ketika muncak di Gunung Ungaran
  • Dalam acara UIN Walisongo Mengaji, Semarak Miladiyyah JQH eL-Fasya ke-23 2017
  • Kegiatan pengenalan calon anggota baru sebelum mengikuti OPTIKA
  • Divisi Arab saat belajar bersama di wisata alam Semarang
  • Setelah melakukan latihan rutin Divisi dan setelah menyelesaikan kegiatan di PRPP Semarang
  • Anggota JQH di UINSIQ Wonosobo tahun 2016
  • Bertepatan dengan PHBI Bulan Maulid 2017
  • Bersama Habib Rizal Semarang
  • Tampil di acara FEBI FAIR 2018
  • Tampil Mengisi Penutupan Acara FSI HIQMA UIN Syarif Hidayatulloh Jakarta2018
  • Penampilan Salah Satu Peserta Lomba Rebana dalam Acara GFI JQH
  • Bersama Gus Mus Dari Rembang
  • Di Taman Miniatur Surga Bandungan

Kyai Ulil Albab Syaiun: Tips Membangun Rumah dalam Surga Sebelum Memasukinya


Minggu, 28 januari. Seperti biasa teman-teman JQH mengikuti pengajian rutin
yang diadakan oleh Pak Budi, salah satu warga Perum BPI Kota Semarang. Pengajian rutin ini dilaksanakan setiap minggu terakhir bulan syamsiyah (baca: masehi). Teman-teman JQH juga ikut andil dalam mengiringi acara tersebut dengan rebana serta lantunan-lantunan shalawat nabi.

Acara yang dimulai sekitar pukul 19.00 WIB ini dimulai dengan pra-acara lantunan shalawat yang dibawakan oleh grup rebana JQH untuk menandakan acara segera dimulai juga menunggu kyai yang menjadi pemandu dalam acara ini. 

Acara ini dipandu oleh KH. Ulil Albab Syaiun dengan runtutan acara setelah pra-acara adalah berisi dzikir dan selawat, secara berturut-turut berupa pembacaan tahlil, manaqib syekh Abdul Qodir al-Jailani, Maulid Nabi, Ratibul Haddad, yang diakhiri dengan mauidhah singkat serta doa penutup.

Kesempatan mauidhah dalam acara ini, beliau memberikan tips menarik kepada para jamaah agar kelak dibangunkan rumah oleh Allah s.w.t di surga. Tips tersebut ada 3 macam, yaitu memaafkan orang yang telah menyakiti, memberi orang yang pelit, menyambung silaturrahmi orang yang memutusnya.

Memaafkan disini diartikan oleh kyai Ulil Albab dengan tidak membalas, yaitu jika orang merasa disakiti oleh orang lain, maka orang tersebut tidak membalas dengan menyakiti. Beliau pun menambahkan meskipun membalas menyakiti orang yang menyakiti itu boleh, memaafkan dan tidak membalasnya itu lebih baik.

Selanjutnya, kyai Ulil Albab juga menjelaskan perbuatan yang pertama ini bisa pula menjadi salah satu cara agar doa seseorang mustajab (baca: dikabulkan), yaitu doa orang selama 3 hari setelah disakiti oleh orang lain adalah mustajab, dengan catatan orang tersebut tidak membalas dan memaafkan orang yang menyakitinya.

Kyai Ulil Albab juga menyebutkan sebuah teladan dari hadratus syaikh KH. Hasyim As’ari terkait perbuatan tersebut. Beliau menyebutkan bahwa hadratus syaikh jika disakiti oleh seseorang akan sesegera mungkin untuk memanjatkan doa kepada Allah s.w.t. tak hanya sampai disitu, setelah itu hadratus syaikh pulang ke rumah beliau menyuruh istrinya untuk memasak masakan yang sangat enak lantas disiapkan satu rantang (baca: wadah makanan) masakan tersebut untuk diberikan kepada orang yang menyakiti hadratus syaikh.

Tips yang kedua adalah memberi terhadap orang yang pelit, kyai Ulil Albab mengibaratkan jika seseorang memberi orang lain lalu membalasnya dengan pemberian, itu hal yang sangat wajar terjadi. Yang luar biasa adalah orang yang memberi pada orang yang tidak pernah memberi bahkan pelit terhadap orang tersebut.

Kyai Ulil Albab menjelaskan tips ini secara lebih umum bahwa perbuatan memberi bukan hanya pada memberi yang bersifat materiil saja, melainkan juga memberi dalam artian kegiatan sosial yang lainnya, seperti berperilaku baik, ataupun menghadiri undangan.

Tips terakhir agar dibangunkan rumah oleh Allah s.w.t di dalam surga adalah dengan menyambung silaturrahmi kepada orang yang telah memutusnya. Bermakna bahwa jika memiliki hubungan dengan seseorang, maka jangan sampai pemutus hubungan itu, kita harus berusaha sebisa mungkin untuk tetap menyambung silaturrahmi, khususnya pada keluarga.

Kyai Ulil Albab juga mengutip hadis qudsi “barangsiapa memutuskan hubungannya dengan keluarga, maka putuslah hubungannya denganku”, beliau juga menekankan kandungan hadis tersebut bahwa keluarga menjadi sangat penting karena keluarga adalah “pilihan Allah”. Hal ini dikarenakan siapa keluarga kita, kita tidak bisa memilih, berbeda halnya dengan teman.

Kita bisa memilih untuk berteman dengan teman yang memiliki kecocokan dengan kita ataupun tidak berteman dengan orang karena alasan tertentu. Berbeda halnya dengan keluarga, kita tidak bisa memilih dalam keluarga yang seperti apa kita akan berada, siap atau tidak kita dianugrahkan di tengah keluarga dengan segala kelemahan juga kekurangannya.


Thomy Azizy

Posting Komentar

0 Komentar