Slide Show

  • Ketika tampil di Kampus 3 UIN Walisongo
  • Anggota JQH setelah selesainya kegiatan Gebyar Festifal Islami 2014
  • Bersama Kyai Bisri Musthofa pada acara Semarak Miladiyyah UKM JQH tahun 2013
  • Keluarga JQH ketika muncak di Gunung Ungaran
  • Dalam acara UIN Walisongo Mengaji, Semarak Miladiyyah JQH eL-Fasya ke-23 2017
  • Kegiatan pengenalan calon anggota baru sebelum mengikuti OPTIKA
  • Divisi Arab saat belajar bersama di wisata alam Semarang
  • Setelah melakukan latihan rutin Divisi dan setelah menyelesaikan kegiatan di PRPP Semarang
  • Anggota JQH di UINSIQ Wonosobo tahun 2016
  • Bertepatan dengan PHBI Bulan Maulid 2017
  • Bersama Habib Rizal Semarang
  • Tampil di acara FEBI FAIR 2018
  • Tampil Mengisi Penutupan Acara FSI HIQMA UIN Syarif Hidayatulloh Jakarta2018
  • Penampilan Salah Satu Peserta Lomba Rebana dalam Acara GFI JQH
  • Bersama Gus Mus Dari Rembang
  • Di Taman Miniatur Surga Bandungan

Peran JQH: Menghadapi Tantangan Bangsa



Bertempat di Pondok Pesantren Tahfidzul Qur`an Miftahul Huda Kaliwungu Kendal, Pengurus Wilayah Jam'iyyatul Qurra` wal Huffadz Nahdlatul Ulama (PW JQH NU) Jawa Tengah mengadakan Rapat Kerja bersama UKM JQH eL-Fasya eL-Febi’s UIN Walisongo Semarang sebagai pengisi serimonial acara (Sabtu, 3 Nopember 2018).

Diketuai oleh Bapak Tolkhatul Khoir, salah satu pembina UKM JQH eL-Fasya eL-Febi’s UIN Walisongo Semarang, acara yang bertajuk “JQH NU dan Tantangan Bangsa Kontemporer” ini dihadiri oleh beberapa cabang pengurus wilayah JQH dari berbagai cabang. Di antara cabang tersebut adalah delegasi dari JQH Jepara, JQH Brebes, JQH Semarang, JQH Temanggung, JQH Kudus, JQH Magelang, JQH Purbalingga dan JQH JATENG sendiri.

Acara tersebut diawali dengan melantunkan Sya’ir Sholawat Eling Kubur yang dipimpin oleh Drs. H. Amdjad Al Hafidh, Bsc., M.Pd, juga pengarang dari sya’ir tersebut. Kemudian pembukaan, pembacaan ayat suci al-Qur`an oleh Ibu Uyuni Azizah dari Semarang dan dilanjut dengan penampilan paduan suara (PASWA) oleh Tim PASWA UKM JQH eL-Fasya eL-Febi’s.


Lelah akibat perjalanan dari kota masing-masing pun menjadi semangat setelah lagu Indonesia Raya, Ya Lal Wathon, dan Mars JQH dinyanyikan bersama. Adapun rangkaian acara selanjutnya yaitu sambutan-sambutan dan pembahasan rapat kerja.

Ustadz Amdjad dalam sambutannya menjelaskan bahwasannya di Jawa Tengah, organisasi atau perkumpulan para ahli qira’at dan penghafal al-Qur`an dinamai dengan nama Jam’iyyatul Qurra` wal Huffadz (JQH).

”Sebenarnya di seiap daerah di Indonesia telah berdiri organisasi semacam itu yang beraneka ragam nama dan sebutannya. Akan tetapi mempunyai tujuan yang sama yaitu menghimpun dan mempersatukan para ahli qira’atul Qur`an serta memelihara kesucian al-Qur`an. Selain itu juga bertujuan untuk mempelajari segi bacaan (tilawah) dan hukum-hukum tajwid. Selanjutnya, mempelajari isi yang terkandung di dalamnya guna diamalkan oleh setiap umat Islam di Indonesia, sekaligus untuk menyebarluaskan (dakwah Islamiyah) seni bacaan al-Qur`an sesuai hukum tajwid dan qira’at sebagai pedomannya,” ujar beliau.

Terkait dengan tema, ustadz Andi Purwono sebagai pemimpin rapat kerja tersebut memaparkan bahwa tantangan bangsa berkaca pada National Interest (kepentingan nasional) yaitu: National Security (keamanan nasional), Economic Prospherity (pertumbuhan ekonomi), National Prestige (martabat nasional) dan Promotion of Ideology (dakwah ideologi). Bisa diperjelas bahwa National Security meliputi kedaulatan NKRI, keamanan dan keutuhan wilayah. Sedangkan National Prestige terdiri dari Islam washathiyah, modernisasi demokrasi Islam, kekayaan budaya, dan keramahtamahan.

Lalu, bagaimanakah peran JQH dalam menghadapi tantangan bangsa tersebut?

JQH sebagai Epistemic Community (jaringan profesional dan kopeten) yang diakui dalam domain tertentu dengan klaim otoritatif, harus mampu :
  1. Penguatan Internal, antara lain menghidupkan gerak organisasi seperti rapat atau pertemuan rutin, media komunikasi, dan lain-lain. Dan juga menguatkan kemandirian.
  2. Mapping kekuatan lembaga dan person beserta keahlian masing-masing termasuk pemetaan pesantren kita dan “mereka”.
  3. Bekerja sama dengan media (era informasi).
  4. Bastul masail dan keal-Qur`anan, misalnya perihal kitab suci yang disebut fiksi. Selain itu, adanya pelafalan al-Qur`an dengan menggunakan langgam nusantara juga menimbulkan polemik.
  5. Muncul, menyampaikan pemikiran ketika ada masalah bangsa terutama terkait dengan Otoritas Keilmuan al-Qur`an.
Dari peranan tersebut, maka diagendakanlah beberapa kegiatan seperti :
  1. PW JQH menyiapkan instrument untuk pendataan anggota (qori’ dan huffadz) dan lembaga/pesantren Tahfidz yang berafiliasi NU.
  2. Diadakan konverensi PW JQH September 2019 : konverensi musabaqah, bastul masail dan pelatihan di Masjid Agung Jawa Tengah.
  3. Diadakan kegiatan bersama wilayah dengan tuan rumah Pengurus Cabang JQH NU Jepara.


Kegiatan-kegiatan di atas merupakan hasil rapat kerja sekaligus mengakhiri acara siang itu.


Eva N.A

Posting Komentar

0 Komentar