Slide Show

  • Ketika tampil di Kampus 3 UIN Walisongo
  • Anggota JQH setelah selesainya kegiatan Gebyar Festifal Islami 2014
  • Bersama Kyai Bisri Musthofa pada acara Semarak Miladiyyah UKM JQH tahun 2013
  • Keluarga JQH ketika muncak di Gunung Ungaran
  • Dalam acara UIN Walisongo Mengaji, Semarak Miladiyyah JQH eL-Fasya ke-23 2017
  • Kegiatan pengenalan calon anggota baru sebelum mengikuti OPTIKA
  • Divisi Arab saat belajar bersama di wisata alam Semarang
  • Setelah melakukan latihan rutin Divisi dan setelah menyelesaikan kegiatan di PRPP Semarang
  • Anggota JQH di UINSIQ Wonosobo tahun 2016
  • Bertepatan dengan PHBI Bulan Maulid 2017
  • Bersama Habib Rizal Semarang
  • Tampil di acara FEBI FAIR 2018
  • Tampil Mengisi Penutupan Acara FSI HIQMA UIN Syarif Hidayatulloh Jakarta2018
  • Penampilan Salah Satu Peserta Lomba Rebana dalam Acara GFI JQH
  • Bersama Gus Mus Dari Rembang
  • Di Taman Miniatur Surga Bandungan

Seminar Qurani: Merawat Suasana Qurani Di Kampus Islam





Sebuah ironi jika kampus yang notabene kampus Islam, tanpa ada nuansa kegiatan sejuk ke-Islamannya. Bukan hanya pada cara berpakaian saja, melainkan juga dalam nuansa lingkungan akdemisnya.

Hal tersebut tidak untuk kampus hijau UIN Walisongo Semarang, khususnya pada lingkungan Fakultas Syari'ah dan Hukum serta Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, dikarenakan telah terlaksananya Seminar Qurani di lingkungan kedua fakultas itu.

Acara tersebut adalah inisiasi dari UKM JQH eL-Fasya eL-Febi’s. Sebagai organisasi internal kampus yang bergerak pada pengembangan khazanah ke-Islaman. Seminar Qurani juga menjadi salah satu program JQH dalam menjaga atmosfer ke-Islaman di lingkungan kedua Fakultas tersebut.

Acara yang dilaksanakan pada Selasa (30/10) ba'da Maghrib tersebut mendatangkan narasumber dari salah satu dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, yaitu bapak Drs. Ade Yusuf  Mujaddid, M.Ag yang juga merupakan salah satu pembina JQH.

Seremonial acara menjadi urutan pertama untuk mengawali acara ini, mulai dari pembukaan, pembacaan ayat suci Al-Quran dan diakhiri sambutan. Disambung oleh penyampaian  materi oleh Pak Ade.

Seminar kali ini mengambil tema “Menjadi Insan Qurani”.

Membuka pembahasan dalam seminar tersebut, Pak Ade menjelaskan makna “menjadi” dalam tema tersebut, yaitu makna menjadi adalah sebagai perjalanan tanpa henti, dari hidup sampai mati.

“Jadi untuk menjadi orang yang mencintai alquran, prosesnya berjalan seumur hidup” kata beliau, 

Hal tersebut juga didukung dengan surah al-syams ayat 8-10

فَأَلۡهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقۡوَىٰهَا ٨  قَدۡ أَفۡلَحَ مَن زَكَّىٰهَا ٩ وَقَدۡ خَابَ مَن دَسَّىٰهَا ١٠

Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya; Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu; Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.

Berdasarkan ayat tersebut, Pak Ade pula menyebutkan bahwa manusia adalah manusia yang unik, yaitu punya tabiat kembar,

“manusia bisa menjadi baik, sekaligus bisa menjadi buruk” Manusia bisa menjadi benar, sekaligus juga bisa melakukan kesalahan, itulah uniknya manusia”, kata beliau.

Tidak melulu manusia itu melakukan hal baik, tak melulu pula melakukan perbuatan buruk.

Pak Ade juga menjelaskan bahwa ada 2 faktor yang meyebabkan manusia melakukan perbuatan tersebut.

Faktor pertama adalah iman. Barangsiapa yang imannya dijaga dengan baik, maka perbuatan yang dilakukannya adalah perbuatan yang baik, perbuatan yang benar. Sebaliknya pula, jika orang yang imannya tidak dijaga dengan baik, maka perbuatan yang dilakukannya adalah perbuatan yang buruk, perbuatan yang salah.

Lebih lanjut lagi, beliau menjelaskan pula bahwa untuk menjadi manusia yang berkualistas iman yang Qurani, ada 5 tips untuk dapat meraihnya.

  1. Iman yang kuat. ditegaskan bahwa iman yang kuat disini adalah manusia yang senantiasa meminimalisasi perbuatan dosa.
  2. Ibadah giat. Yaitu ibadah wajib dilaksanakan dengan sepenuh hati, ibadah sunnah dianggap seakan-akan wajib bagi dirinya.
  3. Badan sehat.
  4. Ilmu padat. Adalah manusia yang memiliki kompetensi ilmu agama dan ilmu umum (unity of sciences).
  5. Akhlak hebat.


Faktor kedua adalah ilmu, dengan ilmu kita bisa membedakan mana perbuatan yang baik, mana perbuatan yang buruk.

“Jadi ilmu yang akan membuat kita lebih memilih kebaikan daripada keburukan, lebih memilih kebennaran daripada kesalahan” lanjutnya.

Insan qurani adalah manusia yang selalu menjaga perilakunya, dengan iman dan ilmu, sehingga dapat menjadi manusia yang memiliki wawasan serta kepribadian sesuai dengan Al-Qur'an.

Pada akhir materi, beliau menutup dengan memberikan motivasi pada para hadirin yang terdiri dari mahasiswa Fakultas Syari’ah dan Hukum juga mahasiswa Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Islam, agar dalam setiap harinya tidak lepas dari Al-Quran.

“Saya berpesan, setiap haripun kita jangan samai lepas dari Al-Quran, bisa bacanya, usaha  menghapalnya, bisa memahami arti atau tafsirnya, dan yang paling penting adalah akhlak Al-Quran” pungkasnya.


Tomy Hilmy

Posting Komentar

1 Komentar

  1. Semoga kita selalu diingatkan olehNya ketika kita melupakanNya dengan apapun petunjukNya.

    BalasHapus